Proses masuknya Islam (Islamisasi) di seluruh tanah Pasundan atau
tatar Sunda yang sekarang masuk ke dalam wilayah Provinsi Banten, DKI
Jakarta, dan Jawa Barat, maka mesti berbicara tentang tokoh penyebar
dari agama mayoritas yang dianut suku Sunda tersebut. Menurut sumber
sejarah lokal (baik lisan maupun tulisan) bahwa tokoh utama penyebar
Islam awal di tanah Pasundan adalah tiga orang keturunan raja Pajajaran,
yaitu Pangeran Cakrabuana, Syarif Hidayatullah, dan Prabu Kian Santang.
Sampai saat ini, masih terdapat sebagian penulis sejarah yang
meragukan keberadaan dan peran dari ketiga tokoh tersebut. Munculnya
keraguan itu salah satunya disebabkan oleh banyaknya nama yang ditujukan
kepada mereka. Misalnya, dalam catatan beberapa penulis sejarah
nasional disebutkan bahwa nama Paletehan (Fadhilah Khan) disamakan
dengan Syarif Hidayatullah. Padahal dalam sumber sejarah lokal (cerita
babad), dua nama tersebut merupakan dua nama berbeda dari dua aktor
sejarah dan memiliki peranan serta kedudukan yang berbeda pula dalam
proses penyebaran Islam di tanah Pasundan (dan Nusantara).
Selain faktor yang telah disebutkan, terdapat juga faktor-faktor
lainnya yang mengakibatkan munculnya keraguan terhadap ketiga tokoh
tersebut. Di antaranya seperti kesalahan pengambilan sumber yang hanya
mengambil sumber asing seperti catatan orang Portugis atau Belanda; atau
juga disebabkan sering banyaknya mitos yang dijumpai para penulis
sejarah dalam beberapa sumber lokal. Kondisi seperti ini sangat
membingungkan dan meragukan setiap orang yang ingin mencoba
merekonstruksi ketiga tokoh penyebar Islam di tanah Pasundan tersebut.
Dengan berdasarkan pada realitas historis semacam itu, maka tulisan
ini akan mencoba mengungkap misteri atau ketidakjelasan kedudukan,
fungsi, dan peran ketiga tokoh itu dalam proses Islamisasi di tanah
Pasundan. Dengan demikian diharapkan tulisan ini dapat memberikan
sumbangan berarti terhadap khazanah sejarah kebudayaan Islam-Sunda yang
sampai saat ini dirasakan masih kurang. Selain itu diharapkan juga dapat
memberikan informasi awal bagi para peminat dan peneliti tentang
sejarah Islam di tanah Pasundan.
Sumber-sumber Sejarah
SEBENARNYA banyak sumber sejarah yang belum tergali mengenai
bagaimana proses penyebaran Islam (Islamisasi) di tanah Pasundan.
Sumber-sumber tersebut berkisar pada sumber lisan, tulisan, dan artefak
(bentuk fisik). Sumber lisan yang terdapat di tanah Pasundan tersebar
dalam cerita rakyat yang berlangsung secara turun temurun, misalnya
tentang cerita “Kian Santang bertemu dengan Sayyidina Ali” atau cerita
tentang “Ngahiang-nya Prabu Siliwangi jadi Maung Bodas” dan lainnya.
Begitu pula sumber lisan (naskah), sampai saat ini msaih banyak yang
belum disentuh oleh para ahli sejarah atau filolog. Naskah-naskah
tersebut berada di Museum Nasional, di Keraton Cirebon Kasepuhan dan
Kanoman, Museum Geusan Ulun, dan di daerah-daerah tertentu di wilayah
Jawa Barat dan Banten, seperti di daerah Garut dan Ciamis. Di antara
naskah yang terpenting yang dapat dijadikan rujukan awal adalah naskah
Babad Cirebon, naskah Wangsakerta, Babad Sumedang, dan Babad Limbangan.
Sumber lainnya yang dapat dijadikan alat bantu untuk mengetahui
proses perkembangan Islam di tanah Pasundan ialah artefak (fisik)
seperti keraton, benda-benda pusaka, maqam-maqam para wali, dan pondok
pesantren. Khusus mengenai maqam para wali dan penyebar Islam di tanah
Pasundan adalah termasuk cukup banyak seperti Syeikh Abdul Muhyi
(Tasikmalaya), Sunan Rahmat (Garut), Eyang Papak (Garut), Syeikh Jafar
Sidik (Garut), Sunan Mansyur (Pandeglang), dan Syeikh Qura (Kerawang).
Lazimnya di sekitar area maqam-maqam itu sering ditemukan naskah-naskah
yang memiliki hubungan langsung dengan penyebaran Islam atau dakwah yang
telah dilakukan para wali tersebut, baik berupa ajaran fiqh, tasawuf,
ilmu kalam, atau kitab al-Qur’an yang tulisannya merupakan tulisan
tangan.
Tokoh Cakrabuana
BERDASARKAN sumber sejarah lokal (seperti Babad Cireboni) bahwa
Cakrabuana, Syarif Hidayatullah, dan Kian Santang merupakan tiga tokoh
utama penyebar Islam di seluruh tanah Pasundan. Ketiganya merupakan
keturunan Prabu Sliliwangi (Prabu Jaya Dewata atau Sribaduga Maha Raja)
raja terakhir Pajajaran (Gabungan antara Galuh dan Sunda). Hubungan
keluarga ketiga tokoh tersebut sangatlah dekat. Cakrabuana dan Kian
Santang merupakan adik-kakak. Sedangkan, Syarif Hidayatullah merupakan
keponakan dari Cakrabuana dan Kian Santang. Syarif Hidayatullah sendiri
merupakan anak Nyai Ratu Mas Lara Santang, sang adik Cakrabuana dan
kakak perempuan Kian Santang.
Cakrabuana (atau nama lain Walangsungsang), Lara Santang, dan Kian
Santang merupakan anak Prabu Siliwangi dan hasil perkawinannya dengan
Nyai Subang Larang, seorang puteri Ki Gede Tapa, penguasa Syah Bandar
Karawang. Peristiwa pernikahannya terjadi ketika Prabu Siliwangi belum
menjadi raja Pajajaran; ia masih bergelar Prabu Jaya Dewata atau
Manahrasa dan hanya menjadi raja bawahan di wilayah Sindangkasih
(Majalengka), yaitu salah satu wilayah kekuasaan kerajaan Galuh
Surawisesa (kawali-Ciamis) yang diperintah oleh ayahnya Prabu Dewa
Niskala. Sedangkan kerajaan Sunda-Surawisesa (Pakuan/Bogor) masih
dipegang oleh kakak ayahnya (ua: Sunda) Prabu Susuk Tunggal.
Sebelum menjadi isteri (permaisuri) Prabu Siliwangi, Nyai Subang
Larang telah memeluk Islam dan menjadi santri (murid) Syeikh Hasanuddin
atau Syeikh Quro. Ia adalah putera Syeikh Yusuf Siddiq, ulama terkenal
di negeri Champa (sekarang menjadi bagian dari Vietnam bagian Selatan).
Syeikh Hasanuddin datang ke pulau Jawa (Karawang) bersama armada
ekspedisi Muhammad Cheng Ho (Ma Cheng Ho atau Sam Po Kong) dari dinasti
Ming pada tahun 1405 M. Di karawang ia mendirikan pesantren yang diberi
nama Pondok Quro. Oleh karena itu ia mendapat gelar (laqab) Syeikh Qura.
Ajaran yang dikembangkan oleh Syeikh Qura adalah ajaran Islam Madzhab
Hanafiah.
Pondok Quro yang didirikan oleh Syeikh Hasanuddin tersebut merupakan
lembaga pendidikan Islam (pesantren) pertama di tanah Pasundan. Kemudian
setelah itu muncul pondok pesantren di Amparan Jati daerah Gunung Jati
(Syeikh Nurul Jati). Setelah Syeikh Nurul Jati meninggal dunia, pondok
pesantren Amparan Jati dipimpin oleh Syeikh Datuk Kahfi atau Syeikh
Idhopi, seorang ulama asal Arab yang mengembangkan ajaran Islam madzhab
Syafi’iyyah.
Sepeninggal Syeikh Hasanuddin, penyebaran Islam melalui lembaga
pesantren terus dilanjutkan oleh anak keturunannya, di antaranya adalah
Musanuddin atau Lebe Musa atau Lebe Usa, cicitnya. Dalam sumber lisan,
Musanuddin dikenal dengan nama Syeikh Benthong, salah seorang yang
termasuk kelompok wali di pulau Jawa (Yuyus Suherman, 1995:13-14).
Dengan latar belakang kehidupan keberagamaan ibunya seperti itulah,
maka Cakrabuana yang pada waktu itu bernama Walangsungsang dan adiknya
Nyai Lara Santang memiliki niat untuk menganut agama ibunya daripada
agama ayahnya (Sanghiyang) dan keduanya harus mengambil pilihan untuk
tidak tetap tinggal di lingkungan istana. Dalam cerita Babad Cirebon
dikisahkan bahwa Cakrabuana (Walangsungsang) dan Nyai Lara Santang
pernah meminta izin kepada ayahnya, Prabu Jaya Dewata, yang pada saat
itu masih menjadi raja bawahan di Sindangkasih untuk memeluk Islam. Akan
tetapi, Jaya Dewata tidak mengijinkannya. Pangeran Walangsungsang dan
Nyai Lara Santang akhirnya meninggalkan istana untuk berguru menimba
pengetahuan Islam. Selama berkelana mencari ilmu pengetahuan Islam,
Walangsungsang menggunakan nama samaran yaitu Ki Samadullah. Mula-mula
ia berguru kepada Syeikh Nurjati di pesisir laut utara Cirebon. Setelah
itu ia bersama adiknya, Nyai Mas Lara Santang berguru kepada Syeikh
Datuk Kahfi (Syeikh Idhopi).
Selain berguru agama Islam, Walangsungsang bersama Ki Gedeng Alang
Alang membuka pemukinan baru bagi orang-orang yang beragama Islam di
daerah pesisir. Pemukiman baru itu dimulai tanggal 14 Kresna Paksa bukan
Caitra tahun 1367 Saka atau bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 849
Hijrah (8 April 1445 M). Kemudian daerah pemukiman baru itu diberi nama
Cirebon (Yuyus Suherman, 1995:14). Penamaan ini diambil dari kata atau
bahasa Sunda, dari kata “cai” (air) dan “rebon” (anak udang, udang
kecil, hurang). Memang pada waktu itu salah satu mata pencaharian
penduduk pemukiman baru itu adalah menangkap udang kecil untuk dijadikan
bahan terasi. Sebagai kepada (kuwu; Sunda) pemukiman baru itu adalah Ki
Gedeng Alang Alang, sedangkan wakilnya dipegang oleh Walangsungsang
dengan gelar Pangeran Cakrabuana atau Cakrabumi.
Setelah beberapa tahun semenjak dibuka, pemukian baru itu (pesisir
Cirebon) telah menjadi kawasan paling ramai dikunjungi oleh berbagai
suku bangsa. Tahun 1447 M, jumlah penduduk pesisir Cirebon berjumlah 348
jiwa, terdiri dari 182 laki-laki dan 164 wanita. Sunda sebanyak 196
orang, Jawa 106 orang, Andalas 16 orang, Semenanjung 4 orang, India 2
orang, Persia 2 orang, Syam (Damaskus) 3 orang, Arab 11 orang, dan Cina 6
orang. Agama yang dianut seluruh penduduk pesisir Cirebon ini adalah
Islam.
Untuk kepentingan ibadah dan pengajaran agama Islam, pangeran
Cakrabuana (Walangsungsang atau Cakrabumi, atau Ki Samadullah) kemudian
ia mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Sang Tajug Jalagrahan (Jala
artinya air; graha artinya rumah), Mesjid ini merupakan mesjid pertama
di tatar Sunda dan didirikan di pesisir laut Cirebon. Mesjid ini sampai
saat ini masih terpelihara dengan nama dialek Cirebon menjadi mesjid
Pejalagrahan. Sudah tentu perubahan nama ini, pada dasarnya berpengaruh
pada reduksitas makna historisnya. Setelah mendirikan pemukiman
(padukuhan; Sunda) baru di pesisir Cirebon, pangeran Cakrabuana dan Nyai
Mas Lara Santang pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan rukun Islam
yang kelima. Ketika di Mekah, Pangeran Cakrabuana dan Nyai Mas Lara
Santang bertemu dengan Syarif Abdullah, seorang penguasa (sultan) kota
Mesir pada waktu itu. Syarif Abdullah sendiri, secara geneologis,
merupakan keturunan Nabi Muhammad Saw. generasi ke-17.
Dalam pertemuan itu, Syarif Abdullah merasa tertarik hati atas
kecantikan dan keelokan Nyai Mas Lara Santang. Setelah selesai
menunaikan ibadah haji, Pangeran Cakrabuana mendapat gelar Haji Abdullah
Iman, dan Nyai Mas Lara Santang mendapat gelar Hajjah Syarifah Muda’im.
Selanjutnya, Nyai Mas Larasantang dinikahkan oleh Pangeran Cakrabuana
dengan Syarif Abdullah. Di Mekah, Pangeran Walangsungsang menjadi
mukimin selama tiga bulan. Selama tiga bulan itulah, ia belajar tasawuf
kepada haji Bayanullah, seorang ulama yang sudah lama tinggal di
Haramain. Selanjutnya ia pergi ke Baghdad mempelajari fiqh madzhab
Hanafi, Syafi’i, Hambali, dan Maliki.
Selang beberapa waktu setelah pengeran Cakrabuana kembali ke Cirebon,
kakeknya dari pihak ibu yang bernama Mangkubumi Jumajan Jati atau Ki
Gedeng Tapa meninggal dunia di Singapura (Mertasinga). Yang menjadi
pewaris tahta kakeknya itu adalah pangeran Cakrabuana. Akan tetapi,
Pangeran Cakrabuana tidak meneruskan tahta kekuasaan kakeknya di
Singapura (Mertasinga). Ia membawa harta warisannya ke pemukiman pesisir
Cirebon. Dengan modal harta warisan tersebut, pangeran Cakrabuana
membangun sebuah keraton bercorak Islam di Cirebon Pesisir. Keraton
tersebut diberi nama Keraton Pakungwati. Dengan berdirinya Keraton
Pakungwati berarti berdirilah sebuah kerajaan Islam pertama di tatar
Sunda Pajajaran. Kerajaan Islam pertama yang didirikan oleh Pangeran
Cakrabuana tersebut diberi nama Nagara Agung Pakungwati Cirebon atau
dalam bahasa Cirebon disebut dengan sebutan Nagara Gheng Pakungwati
Cirebon.
Mendengar berdirinya kerajaan baru di Cirebon, ayahnya Sri Baduga
Maharaja Jaya Dewata (atau Prabu Suliwangi) merasa senang. Kemudian ia
mengutus Tumenggung Jayabaya untuk melantik (ngistrénan; Sunda) pangeran
Cakrabuana menjadi raja Nagara Agung Pakungwati Cirebon dengan gelar
Abhiseka Sri Magana. Dari Prabu Siliwangi ia juga menerima Pratanda atau
gelar keprabuan (kalungguhan kaprabuan) dan menerima Anarimakna
Kacawartyan atau tanda kekuasaan untuk memerintah kerajaan lokal. Di
sini jelaslah bahwa Prabu Siliwangi tidak anti Islam. Ia justeru
bersikap rasika dharmika ring pamekul agami Rasul (adil bijaksana
terhadap orang yang memeluk agama Rasul Muhammad).
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa
yang pertama sukses menyebarkan agama Islam di tatar Sunda adalah
Pangeran Cakrabuana atau Walangsungsang atau Ki Samadullah atau Haji
Abdullah Iman. Ia merupakan Kakak Nyai Mas Lara Santang dan Kian
Santang, dan ketiganya merupakan anak-anak dari Prabu Siliwangi. Dengan
demikian, ia merupakan paman (ua; Sunda) dari Syarif Hidayatullah (Sunan
Gunung Jati). Ia dimakamkan di Gunung Sembung dan makamnya berada luar
komplek pemakaman (panyawéran; Sunda) Sunan Gunung Jati.
Tokoh Kian Santang
SEBAGAIMANA halnya dengan prabu Siliwangi, Kian Santang merupakan
salah satu tokoh yang dianggap misterius. Akan tetapi tokoh ini, dalam
cerita lisan dan dunia persilatan (kependekaran) di wilayah Sunda,
terutama di daerah Priangan, sangatlah akrab dan legendaris dengan
pikiran-pikiran orang Sunda. Dalam tradisi persilatan, Kian Santang
terkenal dengan sebutan Gagak Lumayung. Sedangkan nama Kian Santang
sendiri sangat terkenal dalam sejarah dakwah Islam di tatar Sunda bagian
pedalaman.
Sampai saat ini terdapat beberapa versi mengenai tokoh sejarah yang
satu ini. Bahkan tidak jarang ada juga yang meragukan tentang keberadaan
tokoh ini. Alasannya adalah bahwa sumber sejarah yang akurat faktual
dari tokoh ini kurang dapat dibuktikan. Sudah tentu pendapat semacam ini
adalah sangat gegabah dan ceroboh serta terburu-buru dalam mengambil
kesimpulannya. Jika para sejarawan mau jujur dan teliti, banyak
sumber-sumber sejarah yang dapat digunakan bahan penelitian lanjut
mengenai tokoh ini, baik itu berupa sumber sejarah lisan, tulisan,
maupun benda-benda sejarah. Salah satunya adalah patilasan Kian Santang
di Godog Garut, atau Makam Kian Santang yang berada di daerah Depok
Pakenjeng Garut. Kalaulah ada hal-hal yang berbau mitos, maka itu adalah
merupakan tugas sejarawan untuk memilahnya, bukannya memberi
generalisir yang membabi buta, seolah-olah dalam seluruh mitologi tidak
ada cerita sejarah yang sebenarnya.
Sampai saat ini terdapat empat sumber sejarah (lisan dan tulisan)
yang menceritakan tentang sepak terjang tokoh Kian Santang yang sangat
legendaris itu. Keempat sumber itu, ialah (1) cerita rakyat, (2) sejarah
Godog yang diceritakan secara turun menurun; (3) P. de Roo de la
Faille; dan 4) Babad Cirebon karya P.S. Sulendraningrat. Terdapat
beberapa versi cerita rakyat mengenai perjalanan dakwah Kian Santang,
dikisahkan bahwa Prabu Kian Santang bertanding kekuatan gaib dengan
Sayyidina Ali dan Prabu Kian Santang tidak mampu mencabut tongkat yang
ditancapkan oleh Baginda Ali kecuali sesudah Prabu Kian Santang membaca
kalimat Syahadat.
Di dalam cerita lisan lainnya, dikisahkan bahwa Prabu Kian Santang
adalah putera raja Pajajaran yang masuk Islam. Ia pergi ke Arab, masuk
Islam dan setelah kembali ia memakai nama Haji Lumajang. Cerita lainnya
lagi mengatakan bahwa Prabu Kian Santang mengajar dan menyebarkan agama
Islam di Pajajaran dan mempunyai banyak pengikut; dan banyak pula putra
raja yang masuk Islam; bahwa Prabu Kian Santang diusir dari keraton dan
tidak lagi menganut agama nenek moyangnya dan menghasut raja Pajajaran,
bahwa ia akhirnya pergi ke Campa sewaktu kerajaan Pajajaran runtuh.
Dari cerita rakyat tersebut terdapat alur logis yang menunjukkan
kebenaran adanya tokoh Kian Santang sebagai salah seorang penyebar agama
Islam di tanah Pasundan. Misalnya alur cerita tentang “Haji Lumajang”
atau ia pergi ke Campa ketika kerajaan Pajajaran runtuh. Atau istilah
Pajajaran itu sendiri yang sesuai dengan data arkeologi dan sumber data
yang lainya seperti Babad tanah Cirebon dan lainnya.
Adapun mengenai pertemuannya dengan Sayyidina Ali, boleh jadi nama
tersebut bukanlah menantu Rasulullah yang meninggal pada tahun 661 M,
melainkan seorang syekh (guru) tarekat tertentu atau pengajar tertentu
di Mesjid al-Haram. Jika sulit dibuktikan kebenarannya, maka itulah
suatu bumbu dari cerita rakyat; bukan berarti seluruh cerita itu adalah
mitos, tahayul, dan tidak ada buktinya dalam realitas sejarah manusia
Sunda.
Sejalan dengan cerita rakyat di atas, P. de Roo de la Faille menyebut
bahwa Kian Santang sebagai Pangeran Lumajang Kudratullah atau Sunan
Godog. Ia diidentifikasi sebagai salah seorang penyebar agama Islam di
tanah Pasundan. Kesimpulan ini didasarkan pada bukti-bukti fisik berupa
satu buah al-Qur’an yang ada di balubur Limbangan, sebuah skin (pisau
Arab) yang berada di desa Cinunuk (distrik) Wanaraja Garut, sebuah
tongkat yang berada di Darmaraja, dan satu kandaga (kanaga, peti) yang
berada di Godog Karangpawitan Garut.
Dalam sejarah Godog, Kian Santang disebutnya sebagai orang suci dari
Cirebon yang pergi ke Preanger (Priangan) dan dari pantai utara. Ia
membawa sejumlah pengikut agama Islam. Adapun yang menjadi sahabat Kian
Santang setelah mereka masuk Islam dan bersama-sama menyebarkan Islam,
menurut P. de Roo de la Faille, berjumlah 11 orang, yaitu 1) Saharepen
Nagele, 2) Sembah Dora, 3) Sembu Kuwu Kandang Sakti (Sapi), 4) Penghulu
Gusti, 5) Raden Halipah Kandang Haur, 6) Prabu Kasiringanwati atau Raden
Sinom atau Dalem Lebaksiuh, 7) Saharepen Agung, 8 ) Panengah, 9)
Santuwan Suci, 10) Santuwan Suci Maraja, dan 11) Dalem Pangerjaya.
Dari seluruh cerita rakyat tersebut dapat disimpulkan bahwa Kian
Santang merupakan salah seorang putra Pajajaran, yang berasal dari
wilayah Cirebon dan merupakan seorang penyebar agama Islam di Pajajaran.
Kesimpulan ini dapat dicocokkan dengan berita yang disampaikan oleh
P.S. Sulendraningrat yang mengatakan bahwa pada abad ke-13, kerajaan
Pajajaran membawahi kerajaan-kerajaan kecil yang masing-masing
diperintah oleh seorang raja. Di antaranya adalah kerajaan Sindangkasih
(Majalengka) yang diperintah oleh Sri Baduga Maharaja (atau Prabu Jaya
Dewata alias Prabu Siliwangi). Pada waktu itu Prabu Jaya Dewata
menginspeksi daerah-daerah kekuasaannya, sampailah ia di Pesantren Qura
Karawang, yang pada waktu itu dipimpin oleh Syeikh Hasanuddin (ulama
dari Campa) keturunan Cina. Di pesantren inilah ia bertemu dengan Subang
Larang, salah seorang santri Syeikh Qura yang kelak dipersunting dan
menjadi ibu dari Pangeran Walangsungsang, Ratu Lara Santang, dan
Pangeran Kian Santang.
Berdasarkan uraian di atas, maka jelaslah bahwa Kian Santang
merupakan salah seorang penyebar agama Islam di tanah Pasundan yang
diperkirakan mulai menyiarkan dan menyebarkan agama Islam pada tahun
1445 di daerah pedalaman. Ia adalah anak dari Prabu Sri Baduga Maharaja
alias Prabu Siliwangi, raja terakhir Pajajaran. Ia berasal dari wilayah
Cirebon (Sindangkasih; Majaengka), yaitu ketika bapaknya masih menjadi
raja bawahan Pajajaran, ia melarikan diri dan menyebarkan Islam di
wilayah Pasundan (Priangan) dan Godog, op groundgebied. Limbangan
merupakan pusat penyebaran agama Islam pertama di Tatar Sunda (khususnya
di wilayah Priangan). Selain di Godog pada waktu itu, sebagian kecil di
pantai utara sudah ada yang menganut Islam sebagai hubungan langsung
dnegan para pedagang Arab dan India.
Mula-mula Kian Santang mengislamkan raja-raja lokal, seperti Raja
Galuh Pakuwon yang terletak di Limbangan, bernama Sunan Pancer
(Cipancar) atau Prabu Wijayakusumah (1525-1575). Raja yang satu ini
merupakan putra Sunan Hande Limasenjaya dan cucu dari Prabu
Layangkusumah. Prabu Layangkusumah sendiri adalah putra Prabu Siliwangi.
Dengan demikian Sunan Pancer merupakan buyut Prabu Siliwangi. Kian
Santang menghadiahkan kepada Sunan Pancer satu buah al-Qur;an berkukuran
besar dan sebuak sekin yang bertuliskan lafadz al-Qur’an la ikroha
fiddin. Berkat Sunan Pancer ini Islam dapat berkembang luas di daerah
Galuh Pakuwon, sisi kerajaan terakhir Pajajaran.
Para petinggi dan raja-raja lokal lainnya yang secara langsung
diIslamkan oleh Kian Santang di antaranya, ialah (1) Santowan Suci
Mareja (sahabat Kian Santang yang makamnya terletak dekat makam Kian
Santang); 2) Sunan Sirapuji (Raja Panembong, Bayongbong), 3) Sunan
Batuwangi yang sekarang terletak di kecamatan Singajaya (ia dihadiahi
tombak oleh Kian Santang dan sekarang menjadi pusaka Sukapura dan ada di
Tasikmalaya.
Melalui raja-raja lokal inilah selanjutnya Islam menyebar ke seluruh
tanah Priangan. Kemudian setelah itu Islam disebarkan oleh para penyebar
Islam generasi berikutnya, yaitu para sufi seperti Syeikh Jafar Sidiq
(Penganut Syatariah) di Limbangan, Eyang Papak, Syeikh Fatah Rahmatullah
(Tanjung Singguru, Samarang, Garut), Syeikh Abdul Muhyi (penganut
Syatariyah; Pamijahan, Tasikmalaya), dan para menak dan ulama dari
Cirebon dan Mataram seperti Pangeran Santri di Sumedang dan Arif
Muhammad di Cangkuang (Garut).
Tokoh Syarif Hidayatullah
SEPERTI telah diuraikan di atas bahwa ketika selesai menunaikan
ibadah haji, Nyi Mas Larasantang dinikahkan oleh kakaknya
(Walangsungsang) dengan Syarif Abdullah, seorang penguasa kota Mesir
dari klan al-Ayyubi dari dinasti Mamluk. Ia adalah putera dari Nurul
Alim atau Ali Burul Alim yang mempunyai dua saudara, yaitu Barkat Zainal
Abidin (buyut Fadhilah Khan, Faletehan) dan Ibrahim Zainal Akbar, yaitu
ayah dari Ali Rahmatullah atau raden Rahmat atau Sunan Ampel (Yuyus
Suherman, 1995:14). Nurul Alim, Barkat Zainal Abidin, dan Ibrahim Zainal
Akbar merupakan keturunan Rasulullah saw. Nurul Alim menikah dengan
puteri penguasa Mesir (wali kota), karena itulah Syarif Abdullah
(puteranya) menjadi penguasa (wali kota) Mesir pada masa dinasti Mamluk.
Hasil pernikahan antara Syarif Abdullah dengan Nyi Mas Larasantang
melahirkan dua putera yaitu, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
yang lahir di Mekkah pada tahun 1448 dan Syarif Nurullah yang lahir di
Mesir.
Syarif Hidayatullah muda berguru agama kepada beberapa ulama terkenal
saat itu. Di antaranya ia berguru kepada Syeikh Tajuddin al-Kubri di
Mekkah dan Syeikh Athaillah, seorang penganut terekat Sadziliyyah dan
pengarang kitab tasawuf, al-Hikam, masing-masing selama dua tahun.
Setelah merasa cukup pengetahuan agamanya, ia memohon kepada kedua orang
tuanya untuk berkunjung kepada kakak ibunya (Pangeran Cakrabuana) di
Cirebon yang pada waktu itu menduduki tahta kerajaan Islam Pakungwati.
Selama di perjalanan menujuk kerajaan Islam Pakungwati di Cirebon,
Syarif Hidayatullah menyempatkan diri untuk singgah di beberapa tempat
yang dilaluinya. Di Gujarat India, ia singgah selama tiga bulan dan
sempat menyebarkan Islam di tempat itu. Di Gujarat ia mempunyai murid,
yaitu Dipati Keling beserta 98 anak buahnya. Bersama Dipati Keling dan
pengikutnya, ia meneruskan perjalanannya menuju tanah Jawa. Ia pun
sempat singgah di Samudera Pasai dan Banten. Di Pasai ia tinggal selama
dua tahun untuk menyebarkan Islam bersama saudaranya Syeikh Sayyid
Ishak. Di Banten ia sempat berjumpa dengan Sayyid Rakhmatullah (Ali
Rakhmatullah atau Syeikh Rahmat, atau Sunan Ampel) yang sedang giatnya
menyebarkan Islam di sana.
Sesampainya di Cirebon, Syarif Hidayatullah giat menyebarkan agama
Islam bersama Syeikh Nurjati dan Pangeran Cakrabuana. Ketika itu,
Pakungwati masih merupakan wilayah kerajaan Galuh dengan rajanya adalah
Prabu Jaya Dewata, yang tiada lain adalah kakek dari Syarif Hidayatullah
dan ayah dari Nyi Mas Larasantang. Oleh karena itu, Prabu Jaya Dewata
tidak merasa khawatir dengan perkembangan Islam di Cirebon. Syarif
Hidayatullah bahkan diangkat menjadi guru agama Islam di Cirebon, dan
tidak lama kemudian ia pun diangkat semacam “kepala” di Cirebon. Syarif
Hidayatullah giat mengadakan dakwah dan menyebarkan Islam ke arah
selatan menuju dayeuh (puseur kota) Galuh. Prabu Jaya Dewata mulai
gelisah, kemudian ia memindahkan pusat pemerintahannya ke Pakuan
Pajajaran yang terletak di wilayah kerajaan Sunda dengan rajanya Prabu
Susuktunggal, yang masih merupakan paman (ua; Sunda) dari Jaya Dewata.
Tetapi karena Pabu Jaya Dewata menikah dengan Mayang Sunda, puteri Susuk
Tunggal, maka perpindahan bobot kerajaan dari Galuh (Kawali Ciamis) ke
Pakuan Pajajaran (Bogor) bahkan mempersatukan kembali Galuh-Sunda yang
pecah pada masa tahta Prabu Dewa Niskala, ayah Prabu Jaya Dewata. Di
Pajajaran, Prabu Jaya Dewata mengganti namanya menjadi Sri Baduga
Maharaja (lihat Didi Suryadi, Babad Limbangan, 1977:46).
Pada tahun 1479, Pangeran Cakrabuana mengundurkan diri dari tapuk
pimpinan kerajaan Pakungwati. Sebagai penggatinya, maka ditasbihkanlah
Syarif Hidayatullah sebagai sultan Cirebon yang baru. Di bawah pimpinan
Syarif Hidayatullah, Pakungwati mengalami puncak kemajuannya, sehingga
atas dukungan dari rakyat Cirebon, Wali Songo, dan Kerajaan Demak,
akhirnya Pakungwati melepaskan diri dari Pajajaran. Sudah tentu, sikap
ini mengundang kemarahan Prabu Jaya Dewata dan berusaha mengambil alih
kembali Cirebon. Namun penyerangan yang dilakukan Prabu Jaya Dewata
tidak berlangsung lama. Dikatakan bahwa Prabu Jaya Dewata mendapatkan
nasihat dari para Purohita (pemimpin agama Hyang) yang menyatakan bahwa
tidak pantas terjadi pertumpahan darah antara kakek dan cucunya. Lagi
pula berdirinya Cirebon pada dasarnya merupakan atas jerih payah putera
darah biru Pajajaran, yaitu Pengeran Cakrabuana.
Pada tanggal 13 Desember 1521 M, Prabu Siliwangi mengundurkan diri
dari tahta kerajaan Pajajaran, untuk selanjutnya menjadi petapa suci
sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya. Sebagai penggantinya adalah
Pangeran Surawisesa yang dilantik pada bukan Agustus 1522 M dengan gelar
Sanghyang. Pangeran Surawisesa inilah yang secara resmi melakukan
perjanjian kerjasama dengan Portugis yang naskah perjanjiannya
ditandatangani pada 21 Agustus 1522 M, berisi tentang kerjasama di
bidang perdagangan dan pertahanan. Rintisan kerja sama antara Pajajaran
dan Portugis itu telah dirintis sejak Prabu Jaya Dewata masih berkuasa.
Peristiwa tersebut merupakan peristiwa pertama dalam sejarah diplomatik
Nusantara, boleh dikatakan bahwa ia merupakan seorang raja dari
Nusantara yang pertama kali melakukan hubungan diplomatik dengan
orang-orang Eropa.
Perjanjian kerjasama antara Pajajaran dan Portugis itu telah
menimbulkan kekhawatiran bagi kerajaan Demak dan Cirebon. Karena itulah
pada tahun 1526 M, Sultan Trenggono dari Demak mengutus Fadhilah Khan
(Fathailah atau Faletehan) ke Cirebon untuk sama-sama menguasai Sunda
Kelapa yang pada waktu itu masih berada dalam kekuasaan Pajajaran.
Strategi ini diambil agar pihak Portugis tidak dapat menduduki pelabuhan
Sunda Kelapa. Tidak berapa lama pad atahun 1527 M Portugis datang ke
Sunda Kelapa untuk mewujudkan cita-cita mendirikan benteng di Muara Kali
Ciliwung daerah bandar Sunda Kelapa. Namun pasukan Portugis dipukul
mundur oleh pasukan Fadhilah Khan yang waktu itu sudah bergelar Pangeran
Jayakarta.
Banyak nama yang dinisbahkan pada Pengeran terakhir ini, yaitu
Pengeran Jayakarta, Fatahilah, Faletehan, Tagaril, dan Ki Bagus Pase.
Penisbahan nama terakhir terhadapnya karena ia berasal dari Samudera
Pasai. Ia merupakan menantu Sultan Trenggono dan Sultan Syarif
Hidayatullah. Hal ini karena Faletehan selain menikah dengan Ratu
Pembayun (Demak), ia juga menikah dengan Ratu Ayu atau Siti Winahon,
puteri Syarif Hidayatullah, janda Pati Unus yang gugur di Malaka (Yuyus
Suherman, 1995:17). Dengan menikahi putri Demak dan Cirebon, maka
Faletehan memiliki kedudukan penting di lingkungan keluarga kedua
keraton itu. Karena itulah, ketika Syarif Hidayatullah meninggal pada 19
September 1568 M, maka Faletehan diangkat menjadi pengganti Syarif
Hidayatullah sebagai Sultan di Cirebon. Peristiwa itu terjadi ketika
Pangeran Muhammad Arifin (Pangeran Pasarean), putra Syarif Hidayatullah,
mengundurkan diri dari tahta kerajaan Islam Cirebon. Muhammad Arifin
sendiri lebih memilih menjadi penyebar Islam di tatar Sunda bagian utara
dan sejak itulah ia lebih dikenal dengan nama Pangeran Pasarean.
Ketika Faletehan naik tahta di Cirebon ini, saat itu, Jayakarta
(Sunda Kelapa) diperintah oleh Ratu Bagus Angke, putra Muhammad
Abdurrahman atau Pangeran Panjunan dari putri Banten. Namun Faletehan
menduduki tahta kerajaan Cirebon dalam waktu yang tidak lama, yakni
hanya berlangsung selama dua tahun, karena ia mangkat pada tahun 1570 M.
Ia dimakamkan satu komplek dengan mertuanya, Syarif Hidayatullah, yakni
di Astana Gunung Jati Cirebon. Ia kemudian digantikan oleh Panembahan
Ratu.
Khatimah
DEMIKIANLAH sekilas mengenai uraian historis tentang peran Pangeran
Cakrabuana, Kian Santang, dan Syarif Hidayatullah dalam proses
penyebaran Islam di tanah Pasundan yang sekarang menjadi tiga wialyah,
yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Berdasarkan uraian di atas,
maka terdapat beberapa kesimpulan dan temuan sementara yang dapat
dijadikan bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya.
Pertama, bahwa orang yang pertama menyebarkan Islam di daerah pesisir
utara Cirebon adalah Pangeran Walangsungsang atau Adipati Cakrabuana
atau Ki Cakrabumi atau Ki Samadullah atau Syeikh Abdul Iman, yang
mendirikan kerajaan pertama Islam Pakungwati. Ia adalah ua dari Syarif
Hdiayatullah.
Kedua, Kian Santang merupakan anak ketiga dari pasangan Prabu
Siliwangi dan Nyi Subang Larang yang beragama Islam. Ia dilahirkan pada
tahun 1425, dua puluh lima tahun sebelum lahir Sunan Gunung Jati dan
Mualana Syarif Hidayatullah. Ia mulai menyebarkan agama Islam di Godog,
Garut pada tahun 1445. Ia adalah penyebar Islam pertama di pedalaman
tatar Sunda. Ia merupakan paman dari Syarif Hidayatullah. Ia disebutkan
berasal dari wilayah Cirebon, tepatnya dari Kerajaan Sindangkasih
(Majalengka).
Ketiga, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati adalah nama tokoh
yang berbeda dengan Faletehan. Keduanya memiliki peran yang berbeda
dalam usaha menyebarkan agama Islam di tanah Pasundan.
sumber : http://ragamhandicraftrajapolah.wordpress.com
IHSAN KATERING CIREBON- "kateringnya wong Cirebon"
Melayani katering dengan berbagai menu pilihan dan harga,untuk berbagai macam acara, seperti : arisan, pengajian, pernikahan, khitanan, makan karyawan, acara keluarga, pemerintah dll.
INFORMASI DAN PEMESANAN HUB. 0813 2423 2607
Selasa, 19 Maret 2013
Sejarah Kesultanan Cirebon
Keraton Kasepuhan, salah satu peninggalan sejarah yang masih terawat dengan baik.
Pada awalnya, Cirebon adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Demikian dikatakan oleh serat Sulendraningrat, yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda. Lama-kelamaan Cirebon berkembang menjadi sebuah desa yang ramai yang diberi nama Caruban. Diberi nama demikian karena di sana bercampur para pendatang dari beraneka bangsa, agama, bahasa, dan adat istiadat.
Karena sejak awal mata pecaharian sebagian besar masyarakat adalah nelayan, maka berkembanglah pekerjaan nenangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai, serta pembuatan terasi, petis dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon ini berkembang sebutan cai-rebon (bahasa sunda : air rebon), yang kemudian menjadi cirebon.
Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya Alam dari pedalaman, cirebon menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara jawa. Dari pelaburan cirebon, kegiatan pelayaran dan perniagaan berlangsung antar-kepulauan nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. Selain itu, tidak kalah dengan kota-kota pesisir lainnya Cirebon juga tumbuh menjadi pusat penyebaran islam di jawa barat.
Al kisah, hiduplah Ki Gedeng Tapa, seorang saudagar kaya di pelabuhan Muarajati. Ia mulai membuka hutan, membangun sebuah gubuk pada tanggal 1 Sura 1358 (tahun jawa), bertepatan dengan tahun 1445 M. Sejak saat itu, mulailah para pendatang menetap dan membentuk masyarakat baru di desa caruban. Kuwu atau kepala desa pertama yang diangkat oleh masyarakat baru itu adalah Ki Gedeng Alang-alang. Sebagai pangraksabumi atau wakilnya, diangkatlah raden Walangsungsang. Walangsungsang adalah putra prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang, putri Ki Gedeng Tapa. Setelah ki Gedeng Alang-alang meninggal Walangsungsang bergelar Ki Cakrabumi diangkat sebagai Kuwu pengganti ki Gedeng Alang-alang dengan gelar Pangeran Cakrabuana.
Ketika kakek ki Gedeng Tapa meninggal, pangeran cakrabuana tidak meneruskannya, melainkan mendirikan istana Pakungwati, dan membentuk pemerintahan cirebon. Dengan demikian yang dianggap sebagai pendiri pertama kesultanan Cirebon adalah pangeran Cakrabuana (…. – 1479). Seusai menunaikan ibadah haji, Cakrabuana disebut Haji Abdullah Iman, dan tampil sebagai raja Cirebon pertama yang memerintah istana pakungwati, serta aktif menyebarkan Islam.
Pada tahun 1479 M, kedudukan Cakrabuana digantikan oleh keponakannya. Keponakan Cakrabuana tersebut merupakan buah perkawinan antara adik cakrabuana, yakni Nyai Rarasantang, dengan Syarif Abdullah dari Mesir. Keponakan Cakrabuana itulah yang bernama Syarif Hidayatullah (1448 – 1568 M). Setelah wafat, Syarif Hidayatullah dikenal dengan nama sunan Gunung Jati, atau juga bergelar ingkang Sinuhun Kanjeng Jati Purba Penetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatura Rasulullah.
Pertumbuhan dan perkembangan kesultanan Cirebon yang pesat dimulai oleh syarif Hidayatullah. Ia kemudian diyakini sebagai pendiri dinasti kesultanan cirebon dan banten, serta menyebar islam di majalengka, Kuningan, kawali Galuh, Sunda Kelapa, dan Banten. Setelah Syarif Hidayatullah wafat pada tahun 1568, terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi kerajaan Islam cirebon. Pada mulanya, calon kuat penggantinya adlah pangeran Dipati Carbon, Putra Pengeran Pasarean, cucu syarif hidayatullah. Namun, Pangeran dipati carbon meninggal lebuh dahulu pada tahun 1565.
Kosongnya kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat istana yang memegang kenali pemerintahan selama syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati melaksanakan Dakwah. Pejabat tersebut adalah Fatahillah atauFadillah Khan. Fatahillah kemudian naik tahta, secara resmi menjadi sultan cirebon sejak tahun 1568.

Naiknya Fatihillah dapat terjadi karena dua kemungkinan pertama, para sultan Gunung Jati, yaitu Pangeran Pasarean, pangeran Jayakelana, dan pangeran Bratakelana, meninggal lebih dahulu, sedangkan putra yang masih hidup, yaitu sultan Hasanuddin (pangeran Sabakingkin), memerintah di Banten berdiri sendiri sejak tahun 1552 M. Kedua, Fatahillah adalah menantu Sunan Gunung Jati (Fatahillah menikah dengan Ratu Ayu, putri sunan Gunung Jati), dan telah menunjukkan kemampuannya dalam memerintah Cirebon (1546 – 1568) mewakili Sunan Gunug Jati. Sayang, hanya dua tahun Fatahillah menduduki tahta Cirebon, karena ia meninggal pada 1570.
Sepeninggal Fatahillah, tahta jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati, yaitu pangeran Emas. Pangeran emas kemudian bergelar panembahan ratu I, dan memerintah cirebon selama kurang lebih 79 tahun. Setelah panembahan ratu I meninggal pada tahun 1649, pemerintahan kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama pangeran Karim, karena ayahnya yaitu panembahan Adiningkusumah meninggal dunia terlebih dahulu. Selanjutnya, pangeran karim dikenal dengan sebutan Panembahan Ratu II atau panembahan Girilaya.
Pada masa pemerintahan Panembahan Girilaya, Cirebon terjepit di antara dua kekuatan, yaitu kekuatan Banten dan kekuatan mataram. Banten curiga, sebab cirebot dianggap mendekat ke mataram. Di lain pihak, mataram pun menuduh cirebon tidak lagi sungguh-suingguh mendekatkan diri, karena panembahan Girilaya dan Sultan Ageng dari banten adalah sama-sama keturunan pajajaran.
Kondisi panas ini memuncak dengan meninggalnya panembahan Girilaya saat berkunjung ke Kartasura. Ia lalu dimakamkan di bukit Girilaya, Gogyakarta, dengan posisi sejajar dengan makam sultan Agung di Imogiri. Perlu diketahui, panembahan Girilaya adalah juga menantu Sultan Agung Hanyakrakusuma. Bersamaan dengan meninggalnya panembahan Girilaya, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, yakni para putra panembahan Girilaya di tahan di mataram.
Dengan kematian panembahan Girilaya, terjadi kekosongan penguasa. Sultan ageng tirtayasa segera dinobatkan pangeran Wangsakerta sebagai pengganti panembahan Girilaya, atas tanggung jawab pihak Banten. Sultan ageng tirtayasa pun kemudian mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu trunajaya, yang pada saat itu sedang memerangi Amangkurat I dari mataram. Dengan bantuan Trunajaya, maka kedua putra penembahan Girilaya yang ditahan akhirnya dapat dibebaskan, dan dibawa kembali ke Cirebon. Bersama satu lagi putra panembahan Girilaya, mereka kemudian dinobatkan sebagai penguasa kesultanan Cirebon.
Panembahan Girilaya memiliki tiga putra, yaitu pangeran murtawijaya, pangeran Kartawijaya, dan pangeran wangsakerta. Pada penobatan ketiganya di tahun 1677, kesultanan cirebon terpecah menjadi tiga. Ketiga bagian itu dipimpin oleh tiga anak panembahan Girilaya, yakni :
- Pangeran Martawijaya atau sultan Kraton Kasepuhan, dengan gelar Sepuh Abi Makarimi Muhammad Samsudin (1677 – 1703)
- Pangeran Kartawijaya atau Sultan Kanoman, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677 – 1723)
- Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Cirebon, dengan gelar pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677 – 1713)
Perubahan gelar dari “panembahan” menjadi “sultan” bagi dua putra tertua pangeran girilaya dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Sebab, keduanya dilantik menjadi sultan Cirebon di Ibukota banten. Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing. Adapun pangeran wangsakerta tidak diangkat sebagai Sultan, melainkan hanya panembahan. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai kaprabonan (paguron), yaitu tempat belajar para ilmuwan keraton.
Pergantian kepemimpinan para sultan di cirebon selanjutnya berjalan lancar, sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798 – 1803). Saat itu terjadilah pepecahan karena salah seorang putranya, yaitu pangeran raja kanoman, ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama kesultanan Kacirebonan.
Kehendak raja kanoman didukung oleh pemerintah belanda yang mengangkatnya menjadi Sultan Cirebon pada tahun 1807. namun belanda mengajukan satu syarat, yaitu agar putra dan para pengganti raja Kanoman tidak berhak atas gelar sultan. Cukup dengan gelar pangeran saja. Sejak saat itu, di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu kesultanan Kacirebonan. Sementara tahta sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV lain bernama Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803 – 1811).
Sesudah kejadian tersebut, pemerintah kolonial belanda pun semakin ikut campur dalam mengatur Cirebon, sehingga peranan istana-istana kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya semakin surut. Puncaknya terjadi pada tahun-tahun 1906 dan 1926, ketika kekuasaan pemerintahan kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan pengesahan berdirinya Kota Cirebon.
Sumber :kasepuhan.com, Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, M. Hariwijaya, S. S., M.S.i.
IHSAN KATERING CIREBON- "kateringnya wong Cirebon"
Melayani pesanan katering untuk berbagai macam acara dengan berbagai pilihan menu dan harga.
informasi dan pemasaran hub. 0813 2423 2607
Dukungan Tokoh Cirebon terhadap Pembentukan Provinsi Cirebon
Diposkan oleh IHSAN KATERING CIREBON
Deklarasi yang dinamai deklarasi satu hati satu kata perjuangan Cirebon mandiri ini terdiri tiga poin penting. Pertama adalah membantu terwujudnya provinsi Cirebon, kesiapan memfasilitasi demi terwujudnya provinsi Cirebon dan menyetujui Kota Cirebon sebagai ibu kota provinsi Cirebon.
Sejumlah tokoh yang menandatangani dukungan tersebut di antaranya Ketua Umum Sedulur Cirebon Prof Dr Ir H Rokhmin Dahuri MS, Sultan Sepuh ke XIV Keraton Kasepuhan PRA Arief Natadiningrat SE, KH Ja’far Aqiel Siroj (Cirebon), H Dedi Wahidi (Indramayu), Herry Sudjati (Indramayu), H Moh Ilyas Helmy (Majalengka), Atin Susmana (Kuningan), Aan Suharso (Kuningan), Ir H Soenoto (Cirebon) dan H Koesnan Setiamihardja (Cirebon).
“Kami tokoh masyarakat se Ciayumajakuning, setuju dan mendukung atas upaya, keinginan dan ikhtiar masyarakat yang ingin membentuk provinsi Cirebon,” kata Sultan Sepuh, Minggu (19/9).
Ini semua, kata Arief, demi terwujudnya harapan wilayah Ciayumajakuning yang lebih baik dalam mensejahterakan masyarakat. Jika kepentingannya politisasi semata, maka lebih baik tidak usah atau diurungkan keinginan mewujudkan provinsi Cirebon. Namun masih banyaknya pengangguran, kemiskinan dan IPM Ciayumajakuning di bawah rata-rata Jawa Barat, jadi tekad memperbaiki diri. Di sisi lain potensi SDM, alam dan ekonomi Ciayumajakuning menunjukkan sebaliknya.
“Maukah kita terus begini? Atau ingin lebih baik lagi. Karena itu kami mengajak masyarakat bahu membahu memberikan karya bagi daerahnya. Demi Ciayumajakuning yang lebih baik,” ungkapnya di hadapan sekitar 300 undangan halal bil halal Sedulur Cirebon se Ciayumajakuning di Bangsal Pagelaran Keraton Kasepuhan Cirebon.
Sependapat, Ketua Umum Sedulur Cirebon Prof Dr Ir H Rokhmin Dahuri MS menjelaskan keinginan membentuk Provinsi Cirebon harus terwujud. Selama itu menjadi maslahat bagi masyarakat maka pihaknya akan total memberikan dukungan. Jika melihat statuta yang telah dibuat, maka statuta tersebut sudah sangat mewakili keinginan masyarakat Ciayumajakuning. Belum lagi kemampuan PDRB Ciayumajakuning yang terus meningkat dari 2008 Rp3.2 triliun menjadi Rp4.2 triliun di 2009.
“Kita berdoa kalau provinsi Cirebon terbentuk mudah-mudahan bisa menjadi teladan bagi provinsi baru lain yang belum menunjukkan success story. Mudah-mudahan juga niat ini tulus, bukan sekadar ada pihak yang ingin jadi gubernur dan ketua DPRD provinsi,” ungkapnya.
KH Anom Kusumajati menilai pertemuan hari ini adalah momen yang bersejarah. Sebagai sebuah gagasan untuk memunculkan kemandirian baru. Dari halal bihalal ini menjadi harapan bisa mewujudkan provinsi Cirebon Suka (Subang, Karawang). (hen)
Short URL: http://radarcirebon.com/?p=3152
IHSAN KATERING CIREBON -"kateringnya wong Cirebon"
melayani pesanan katering untuk berbagai macam acara dengan berbagai pilihan menu dan harga.
informasi dan pemesanan hub. 0813 2423 2607
Jumat, 15 Maret 2013
Sejarah Kota Cirebon
Asal kota Cirebon ialah pada abad ke
14 di pantai utara Jawa Barat ada
desa nelayan kecil yang bernama
Muara Jati yang terletak di lereng
bukit Amparan Jati. Muara Jati
adalah pelabuhan nelayan kecil. Penguasa kerajaan Galuh yang ibu
kotanya Rajagaluh menempatkan
seorang sebagai pengurus
pelabuhan atau syahbandar Ki
Gedeng Tapa. Pelabuhan Muara Jati
banyak di singgahi kapal-kapal dagang dari luar di antaranya kapal
Cina yang datang untuk berniaga
dengan penduduk setempat, yang
di perdagangkannya adalah garam, hasil pertanian dan terasi. Kemudian
Ki Gendeng Alang-alang
mendirikan sebuah pemukiman di
lemahwungkuk yang letaknya
kurang lebih 5 km, ke arah Selatan
dari Muara Jati. Karena banyak saudagar dan pedangan asing juga
dari daerah-daer5ah lain yang
bermukim dan menetap maka
daerah itu di namakan Caruban
yang berarti campuran kemudian
berganti Cerbon kemudian menjadi Cirebon hingga sekarang. Raja
Pajajaran Prabu Siliwanggi
mengangkat Ki Gede Alang-alang
sebagai kepala pemukiman baru ini
dengan gelar Kuwu Cerbon.
Daerahnya yang ada di bawah pengawasan Kuwu itu dibatasi oleh
Kali Cipamali di sebelah Timur,
Cigugur (Kuningan) di sebelah
Selatan, pengunungan Kromong di
sebelah Barat dan Junti
(Indramayu) di sebelah Utara. Setelah Ki Gedeng Alang-alang
wafat kemudian digantikan oleh
menantunya yang bernama
Walangsungsang putra Prabu
Siliwanggi dari Pajajaran.
Walangsungsang ditunjuk dan diangkat sebagai Adipati Carbon
dengan gelar Cakrabumi.
Kewajibannya adalah membawa
upeti kepada Raja di ibukota
Rajagaluh yang berbentuk hasil
bumi, akan tetapi setelah merasa kuat meniadakan pengiriman upeti,
akibatnya Raja mengirim bala
tentara, tetapi Cakrabumi berhasil
mempertahankann ya. Kemudian Cakrabumi
memproklamasika n kemerdekaannya dan mendirikan
kerajaan Cirebon dengan mamakai
gelar Cakrabuana. Karena
Cakrabuana telah memeluk agama
Islam dan pemerintahannya telah menandai mulainya kerajaan
kerajaan Islam Cirebon, tetapi
masih tetap ada hubungan dengan
kerajaan Hindu Pajajaran. Semenjak
itu pelabuhan kecil Muara
Jati menjadi besar, karena bertambahnya lalu lintas dari dan
ke arah pedalaman, menjual hasil
setempat sejauh daerah pedalaman
Asia Tengara. Dari sinilah awal
berangkat nama Cirebon hingga
menjadi kota besar sampai sekarang ini. Pangeran Cakra Buana
kemudian
membangun Keraton Pakungwati
sekitar Tahun 1430 M, yang
letaknya sekarang di dalam
Komplek Keraton Kasepuhan Cirebon.
IHSAN KATERING CIREBON "kateringnya wong Cirebon"
melayani pesanan katering untuk berbagai macam acara.
hub. 0813 24232607
14 di pantai utara Jawa Barat ada
desa nelayan kecil yang bernama
Muara Jati yang terletak di lereng
bukit Amparan Jati. Muara Jati
adalah pelabuhan nelayan kecil. Penguasa kerajaan Galuh yang ibu
kotanya Rajagaluh menempatkan
seorang sebagai pengurus
pelabuhan atau syahbandar Ki
Gedeng Tapa. Pelabuhan Muara Jati
banyak di singgahi kapal-kapal dagang dari luar di antaranya kapal
Cina yang datang untuk berniaga
dengan penduduk setempat, yang
di perdagangkannya adalah garam, hasil pertanian dan terasi. Kemudian
Ki Gendeng Alang-alang
mendirikan sebuah pemukiman di
lemahwungkuk yang letaknya
kurang lebih 5 km, ke arah Selatan
dari Muara Jati. Karena banyak saudagar dan pedangan asing juga
dari daerah-daer5ah lain yang
bermukim dan menetap maka
daerah itu di namakan Caruban
yang berarti campuran kemudian
berganti Cerbon kemudian menjadi Cirebon hingga sekarang. Raja
Pajajaran Prabu Siliwanggi
mengangkat Ki Gede Alang-alang
sebagai kepala pemukiman baru ini
dengan gelar Kuwu Cerbon.
Daerahnya yang ada di bawah pengawasan Kuwu itu dibatasi oleh
Kali Cipamali di sebelah Timur,
Cigugur (Kuningan) di sebelah
Selatan, pengunungan Kromong di
sebelah Barat dan Junti
(Indramayu) di sebelah Utara. Setelah Ki Gedeng Alang-alang
wafat kemudian digantikan oleh
menantunya yang bernama
Walangsungsang putra Prabu
Siliwanggi dari Pajajaran.
Walangsungsang ditunjuk dan diangkat sebagai Adipati Carbon
dengan gelar Cakrabumi.
Kewajibannya adalah membawa
upeti kepada Raja di ibukota
Rajagaluh yang berbentuk hasil
bumi, akan tetapi setelah merasa kuat meniadakan pengiriman upeti,
akibatnya Raja mengirim bala
tentara, tetapi Cakrabumi berhasil
mempertahankann ya. Kemudian Cakrabumi
memproklamasika n kemerdekaannya dan mendirikan
kerajaan Cirebon dengan mamakai
gelar Cakrabuana. Karena
Cakrabuana telah memeluk agama
Islam dan pemerintahannya telah menandai mulainya kerajaan
kerajaan Islam Cirebon, tetapi
masih tetap ada hubungan dengan
kerajaan Hindu Pajajaran. Semenjak
itu pelabuhan kecil Muara
Jati menjadi besar, karena bertambahnya lalu lintas dari dan
ke arah pedalaman, menjual hasil
setempat sejauh daerah pedalaman
Asia Tengara. Dari sinilah awal
berangkat nama Cirebon hingga
menjadi kota besar sampai sekarang ini. Pangeran Cakra Buana
kemudian
membangun Keraton Pakungwati
sekitar Tahun 1430 M, yang
letaknya sekarang di dalam
Komplek Keraton Kasepuhan Cirebon.
IHSAN KATERING CIREBON "kateringnya wong Cirebon"
melayani pesanan katering untuk berbagai macam acara.
hub. 0813 24232607
Kamis, 14 Maret 2013
kateringnya wong Cirebon
Ihsan Katering Cirebon, melayani pesanan katering untuk berbagai acara, seperti: arisan,pernikahan, khitanan,acara sekolah, makan karyawan , acara instansi pemerintah dll.
Ihsan Katering Cirebon menyediakan katering dengan berbagai macam menu pilihan dan harga.
Ihsan katering Cirebon secara profesional dan berpengalaman melayani pesanan katering bagi masyarakat Cirebon.
Percayakan kebutuhan katering anda pada kami Ihsan Katering Cirebon IKC, yang terletak di Kesepuhan Cirebon telp. 081324232607
Berikut ini menu-menu pilihan IKC:
Harga Rp.12.500 isi menu:
no.1@nasi,ayam panggang,lalap,sambel,buah.
no.2@nasi,aym goreng ,lalap,sambel,buah.
no 3@ nasi,ayam,capcay,sambel goreng,krupuk,buah.
Menu harga Rp.15.000:
1.@ nasi,ayam panggang,tempe bacem,tahu bacem,sambel,lalap,buah.
2.@ nasi,ayam goreng kuning,tahu/tmpe gorg,smbel,lalap,buah.
3.@ nasi,ayam,capcay,sambel goreng,bergedel,krupuk,buah.
Menu Harga Rp.20.000
1.@ nasi,rolade,bihun,sambel goreng,capcay,krupuk,buah.
2. @ nasi,ayam bumbu dendeng,acar timun kuning,bihun,sambel goreng tetelan,krupuk,buah.
Menu Harga Rp.22.000
1.@ nasi,ayam pnggang,telor pindang,bihun,smbel goreng,sayur asin tahu,krupuk,buah.
2.@ nasi,dendeng sapi,orak arik buncis,bihun,krupuk,buah.
3.@ nasi,ayam dendeng,telor pindang,buncis cabe hijau,bihun,sambel goreng,krupuk,buah.
MENU SEDERHANA HARGA Rp.22.000
NO.1>> ROLADE DAGING SAPI,SOP BASO PENGANTIN,GADO-GADO,SAMBEL GORENG CABE HIJAU,SOUN RRT,ACAR,KRUPUK,@
NO.2>> AYAM PANGGANG,SOP BASO AYAM,SOUN RRT,SAMBEL GORENG ATI AMPELA,GADO2/CAPCAY,ACAR,KRUPUK.@
NO.3>>ROLADE,SOP,BASO PENGANTIN,SAMBEL GORENG,CAPCAY,DONGGALA,KRUPUK.BUAH,AIR.
NO 4>>AYAM SUIR,SOUN RRT,SOP BASO SHANGHAI,SMBEL GORENG ATI SAPI,DONGGALA,KRUPUK,BUAH,AIR.
NO.5>>AYAM SUIR,SOUN RRT,SOTO BANDUNG,SAMBEL GORNG,DONGGALA,KERUPUK,BUAH,AIR.
MENU SEDANG HARGA Rp. 27.000
NO. 1@BISTIK SAPI,SOUN RRT,BASO SHANGHAI,AYAM NANGKING,CAPCAY,SAMBEL GORENG,ACAR,KRUPUK,BUAH,AIR,ES PUTER.
NO. 2 @ROLADE,BASO PENGANTIN,SOUN RRT,SAMBEL GORENG,UDANG TEMPURA,GADO2,ACAR,KRUPUK,BUAH,AIR,ES PUTER.
NO. 3@SAPI LADA HITAM,SOUN RRT,BASO PENGANTIN,GADO2/CAPCAY,AYAM SARI WANGI,SAMBEL GORENG CABE IJO,ACAR,KRUPUK,BUAH,AIR,ES PUTER.
NO. 4@AYAM PANGGANG,SOUN RRT,KIM LO,IKAN SAUS PADANG,SAPO TAHU,SAMBEL GORENG ATI,ACAR,KRUPUK,BUAH,AIR,ES PUTER.
MENU PONDOKAN HARGA Rp.6000. MACAM-MACAMNYA: SUP
ASPARAGUS,SUP JAGUNG,KAMBING GULING+LONTONG,EMPAL
GENTONG+LONTONG,SIOMAY,TAHU GEJROT,ES DAWET.
IHSAN KATERING CIREBON kateringnya wong cirebon
PEMESANAN DAN INFORMASI HUB. 0813 2423 2607
Langganan:
Postingan (Atom)